. Disponsori oleh Al Anwar Farm -
-
[iklan]

ALAT UKUR DAN TEKNIK PENGUKURAN

PENDAHULUAN

Tujuan
Pembahasan bertujuan membekali kemampuan :
1. Mendefinisikan sistem satuan besaran listrik
2 Memilih dan menempatkan alat ukur yang baik berdasarkan parameter
3. Mampu menyebutkan macam-macam peraga penunjukkan alat ukur


Pokok Bahasan
1. Parameter Alat Ukur
2. Sistem Satuan
3. Klasifikasi kelas meter dan kalibrasi
4. Macam-macam peraga

DAFTAR ISI

BAB Halaman

KATA PENGANTAR PENULIS 
1. PENDALULUAN 
1.1. Parameter Alat Ukur 
1.1.1. Sistem Satuan Dalam Pengukuran 
1.1.2. Satuan Dasar dan Satuan Turunan
1.1.3. Sistem-sistem satuan 
1.1.4. Sistem Satuan Lain 
1.2. Kesalahan Ukur 
1.2.1. Kesalahan kesalahan Umum
1.2.2. Kesalahan-kesalahan sistematis
1.2.3. Kesalahan-kesalahan Tidak Sengaja
1.3. Klasifikasi Kelas Meter
1.4. Kalibrasi
1.4.1. Kalibrasi Ampermeter Arus Searah
1.4.2. Kalibrasi Voltmeter Arus Searah 
1.5. Macam-macam Alat Ukur Penunjuk Listrik
1.5.1. Alat Ukur Kumparan putar 
1.5.2. Alat Ukur Besi Putar
1.5.2.1. Tipe Tarikan (Attraction)
1.5.2.2. Tipe Tolakan (Repolsion) 22
1.5.3. Alat Ukur Elektrodinamis 24
1.5.4. Alat Ukur Elektrostatis 27
1.6. Peraga Hasil Pengukuran 28
1.6.1. Light Emitting Dioda (LED) 28
1.6.2. LED Seven Segmen 30
1.6.3. LCD Polarisasi Cahaya 33
1.6.4. Tabung Sinar Katoda (Cathode Ray Tube/CRT) 35
1.6.4.1. Susunan Elektroda CRT dan Prinsip Kerja 35
1.6.4.2. Layar CRT 38
1.6.4.3. Gratikulasi 40
2. MULTIMETER
2.1. Multimeter Dasar 42
2.1.1. Ampermeter Ideal 42
2.1.2. Mengubah Batas Ukur 43
2.1.3. Ampermeter AC 47
2.1.4. Kesalahan Pengukuran 48
2.1.4.1. Kesalahan Paralaks 48
2.1.4.2. Kesalahan Kalibrasi 49
2.1.4.3. Kesalahan Pembebanan 50
2.2. Voltmeter 55
2.2.1. Mengubah Batas Ukur 55
2.2.2. Hambatan Masukkan Voltmeter 58
2.2.3. Kesalahan Pembebanan Voltmeter
2.3. Ohmmeter 
2.3.1. Rangkaian Dasar Ohmmeter Seri 
2.3.2. Ohmmeter Paralel 
2.4. Multimeter Elektronik Analog 
2.4.1. Kelebihan Multimeter Elektronik 
JILID 1
2.4.2.. Konstruksi Multimeter Analog 
2.4.3. Multimeter Elektronik Fungsi Tegangan DC 
2.4.4. Multimeter Elektronik Fungsi Tegangan AC 
2.4.5. Multimeter Elektronik Fungsi Ohm 
2.4.6. Parameter Multimeter Elektronik Analog
2.4.6.1. Spesifikasi dan Parameter Multimeter Elektronik
2.4.6.1.1. Spesifikasi Umum
2.4.6.1.2. Range Pengukuran dan Akurasi
2.4.6.2. Langkah Keselamatan Alat 
2.4.7. Prosedur Pengoperasian 
2.4.7.1. Persiapan Pengukuran 
2.4.7.2. Panel Depan dan Fungsi Multimeter 
2.4.7.3. Pengukuran Tegangan 
2.4.7.3.1. Pengukuran Tegangan DC 
2.4.7.3.2. Pengukuran Tegangan AC 
2.4.7.4. Kalibrasi Voltmeter 
2.4.7.4.1. Kalibrasi Uji Kelayakan Meter 82
2.4.7.4.2. Harga Koreksi Relatif dan Kesalahan Relatif 84
2.4.7.5. Pengukuran Arus DC 85
2.4.7.5.1. Kalibrasi Arus 87
2.4.7.5.2. Harga Koreksi Relatip dan kesalahan relatip 89
2.4.8. Pengukuran Tahanan 90
2.4.9. Pengukuran Keluaran Penguat Audio Frekuensi (dB) 
2.4.10. Pengukuran Arus Bocor (ICEO) transistor 
2.4.11. Pengukuran Dioda ( termasuk LED) 
2.4.12. Pengukuran Kapasitor 
2.4.12. Pengetesan Komponen 
2.4.13.1. Pengetesan Dioda 
2.4.13.2. Pengetesan Transistor  
2.4.13.3. Pengetesan SCR 
2.4.14. Perawatan 106
2.4.14.1. Mengganti Sekering 106
2.4.14.2. Perawatan Penyimpanan Meter 
2.4.15. Perbaikan 107
2.5. Multimeter Elektronik Digital 109
2.5.1. Bagian-bagian Multimeter Digital 
2.5.2. Spesifikasi Digital Multimeter 
2.5.3. Prinsip Dasar Pengukuran  
2.5.3.1. Voltmeter 115
2.5.3.2. Ohmmeter 117
2.5.3.3. Pengukuran Frekuensi 117
2.5.3.4. Pengukuran Perioda dan Interval Waktu 118
2.5.3.5. Kapasitansimeter 120
2.5.4. Petunjuk Pengoperasian 122
2.554. Mengatasi Gangguan Kerusakan 123
3. LCR METER
3.1. Prinsip Dasar Pengukuran Komponen LCR 1
3.1.1. Prinsip pengukuran Resistansi 126
3.1.1.2. Jembatan Kelvin 
3.1.1.3. Jembatan Ganda Kelvin 1
3.1.2. Prinsip Dasar Pengukuran L  
1.2. LCR meter model 740  
3.2.1 Spesifikasi LCR meter 140
3.2.2. Pengoperasian 
3.3. Pembacaan Nilai Pengukuran 
3.3.1. Pengukuran Resistansi 
3.3.2. Pengukuran Kapasitansi 
3.3.3. Pengukuran Induktansi 
3.4. Pengukuran Resistansi DC Dengan Sumber Luar 156
3.5. Pengukuran resistansi DC 158
4. PENGUKURAN DAYA
4.1. Pengukuran Daya Rangkaian DC 160
4.2. Pengukuran Daya Rangkaian AC 162
4.2.1 Metoda tiga Voltmeter dan metode tiga Ampermeter 163
4.3. Wattmeter 164
4.3.1. Wattmeter satu fasa 164
4.3.2. Wattmeter tiga fasa 166
4.3.3. Pengukuran Daya Reaktif 168
4.3.4. Konstruksi dan Cara Kerja Wattmeter 168
4.3.4.1. Wattmeter tipe elektrodinamometer 168
4.3.4.2. Wattmeter tipe induksi 169
4.3.4.3. Wattmeter tipe thermokopel 170
4.3.4.4. Prinsip Kerja Wattmeter Elektrodinamometer 
4.3.5. Spesifikasi Alat 175
4.3.6. Karakteristik 175
4.3.7. Prosedur Pengoperasian 
4.3.7.1. Pengukuran daya DC atau AC satu fasa 
4.3.7.2. Pengukuran daya satu fasa jika arus melebihi nilai perkiraan
 
4.3.7.3. Pengukuran daya satu fasa jika tegangan melebihi nilai perkiraan
 
4.3.7.4. Pengukuran daya satu fasa jika tegangan dan arus melebihi nilai perkiraan
 
4.3.7.5. Pengukuran daya tiga fasa (metode dua watt meter) 
4.3.7.6. Pengukuran daya tiga fase jika tegangan dan arus melebihi nilai perkiraan
 
4.3.8. Pemilihan Range 179
1.3.9. Keselamatan Kerja 
4.3.10. Error (Kesalahan) 
4.4. Error Wattmeter 180
4.5. Watt Jam meter 183
4.5.1. Konstruksi dan Cara Kerja Wattjam meter 
4.5.2. Pembacaan 186
4.6. Meter Solid States 187
4.7. Wattmeter AMR 187
4.8. Kasus Implementasi Lapangan 188
4.9. Faktor Daya 191
4.9.1. Konstruksi 191
4.9.2. Cara Kerja 192
4.9.3. Faktor Daya dan Daya 195
4.9.4. Prosedur Pengoperasian Cos Q meter 198
4.10. Metode Menentukan Urutan Fasa 200
JILID 2
4.10.1. Kawat Penghantar Tiga Fasa 200
4.10.2. Prinsip Dasar Alat Indikator Urutan Fasa 
4.10.3. Cara Kerja Alat 203
4.10.4. Prosedur Pengoperasian Alat 206
5. PENGUJI TAHANAN ISOLASI DAN KUAT MEDAN
5.1.1. Pengujian Tahanan Isolasi 210
5.1.2. Pengukuran Tahanan Isolasi 
5.2. Tahanan Pentanahan (Earth Ground Resistance) 216
5.2.1. Cara Menguji Sistem Pentanahan 
5.2.2. Pentanahan dan Fungsinya 
5.2.3. Nilai Tahanan yang Baik 
5.2.4. Dasar-dasar Pentanahan 219
5.2.4.1. Komponen elektroda pentanahan 219
5.2.4.2. Hal-hal yang mempengaruhi tahanan tanah 220
5.2.5. Metode Pengetesan Pentanahan Tanah 222
5.2.5.1. Ukuran tahanan tanah 223
5.2.5.2. Cara menghitung tahanan tanah 223
5.2.5.3. Cara mengukur tahanan tanah 224
5.2.6. Metode Pengetesan Pentanahan Tanah 224
5.2.6. 1. Cara kerja uji Drop Tegangan 225
5.2.6. 2. Cara Menempatkan Tiang Pancang 225
5.2.6. 3. Ukuran selektif 226
5.2.7. Metode Pengetesan Pentanahan Tanah Ukuran Tanpa Pancang
5.2.7.1. Ukuran impedansi tanah 
5.2.7.2. Tahanan tanah dua kutub 
5.2.7.3. Mengukur Tahanan Tanah di Kantor Pusat 230
5.2.8. Aplikasi Tahanan Pentanahan yang Lain 233
5.2.8. 1. Lokasi aplikasi 
5.2.8. 2. Uji-uji yang direkomendasikan 234
5.3. Pengukuran Medan 235
5.3.1. Field meter Statik : 
5.3.1.1. Data Teknik 
5.3.1.1.1. Ukuran Fieldmeter Statik 
5.3.1.1.2. Letak Pin : 240
5.3.1.2. Metode Pengukuran 240
5.3.1.2.1. Pengaturan Offset 240
5.3.1.2.2. Penghitungan Pengisian Muatan 240
5.3.1.3. Perawatan 241
5.3.1.4. Instruksi Peringatan 241
5.3.2. Field meter Statik Digital 241
5.3.2.1. Diskripsi Instrument 241
5.3.2.2. Fungsi Display 242
5.3.2.3. Prosedur Pengukuran 242
5.3.2.3.1. Set-up 242
5.3.2.3.2. Persiapan Pengukuran 243
5.3.2.4. Data Teknik 243
5.3.3. Smart Field Meter 
6. PEMBANGKIT SINYAL
6.1. Fungsi Generator 247
6.1.1. Pendahuluan 247
6.1.2. Konstruksi dan Cara kerja 247
6.1.3. Spesifikasi 249
6.1.4. Prosedur Pengoperasian 250
6.1.4.1.Troubleshooting dengan teknik signal tracing 
6.1.4.2. Troubleshooting menggunakan teknik sinyal pengganti 251
6.1.5. Penggunaan generator fungsi sebagai bias dan sumber sinyal
6.1.5.1. Karakteristik beban lebih pada amplifier 253
6.1.5.2. Pengukuran Respon Frekuensi 253
6.1.5.3. Setting Peralatan Tes 254
6.1.5.4. Peraga Respons Frekuensi 254
6.1.5.5. Pengetesan Tone Control Sistem Audio 255
6.1.4.6. Pengetesan speaker dan rangkaian impedansi 256
6.1.4.7 Keselamatan Kerja 258
6.2. Pembangkit Frekuensi Radio 258
6.2.1. Konstruksi dan Cara Kerja 259
6.2.1.1. Direct Digital Synthesis 259
6.2.1.2. Creating Arbitrary Waveform 262
6.2.1.3. Pembangkit Gelombang 265
6.2.1.4. Generasi Bentuk Gelombang Pulsa 265
6.2.2. Ketidaksempurnaan Sinyal 266
6.2.2.1. Cacat Harmonis 266
6.2.2.2. Cacat Non-Harmonis 
6.2.2.3. Pasa Noise 267
6.2.2.4. Kesalahan Kuantisasi 
6.2.2.5. Pengendali Tegangan Keluaran 
6.2.3. Pengendali Tegangan Keluaran 
6.2.3.1. Rangkaian Tertutup Ground 270
6.2.3.2. Atribut Sinyal AC 271
6.2.4. Modulasi 273
6.2.4.1. Modulasi Amplitudo (AM) 274
6.2.4.2. Frequency Modulation (FM) 274
6.2.4.3. Frequency-Shift Keying (FSK) 275
6.2.4.5. Sapuan Frekuensi 276
6.2.4.6. Sinyal Sinkron dan Marker 277
6.2.4.6.1. Burst 277
6.2.4.6.2. Gated Burst 279
6.2.5. Spesifikasi Alat 279
6.2.6. Prosedur Pengoperasian Pengukuran Pulsa noise 
6.3. Pembangkit Pulsa 282
6.4. Sweep Marker Generator 282
6.4.1. Prosedur Pengoperasian 282
6.4.1.1. Alignment penerima AM 282
6.4.1.2. Alignment penerima Komunikasi FM 284
7.1. Pengantar 287
7.1.1. Pemahaman Dasar Sinyal 287
7.1.2. Pengetahuan dan Pengukuran Bentuk Gelombang 
7.1.2.1. Gelombang kotak dan segiempat 291
7.1.2.2. Gelombang gigigergaji dan segitiga 292
7.1.2.3. Bentuk Step dan Pulsa 292
7.1.2.4. Sinyal periodik dan Non periodik 292
7.1.2.5. Sinyal sinkron dan tak sinkron 292
7.1.2.6. Gelombang kompleks 293
7.1.3. Pengukuran Bentuk Gelombang 294
7.1.3.1. Frekuensi dan Perioda 294
7.1.3.2. Tegangan 294
7.1.3.3. Amplitudo 294
7.1.3.4. Pasa 295
7.1.3.5. Pergeseran Pasa 295
7.2. Operasi Dasar CRO 295
7.2.1. Prinsip Kerja Tabung Sinar Katoda 298
7.2.2. Sensitivitas Tabung 300
7.3. Jenis-Jenis Osiloskop 301
7.3.1. Osiloskop Analog 301
7.3.2. Jenis- jenis Osiloskop Analog 302
7.3.2.1. Free Running Osciloscope 302
7.3.2.2. Osiloskop sapuan terpicu 303
7.3.2.3. CRO Dua Kanal 305
7.3.2.4. CRO Penyimpanan Analog (Storage Osciloscope) 
7.4. Osiloskop Digital 313
7.4.1.Prinsip Kerja CRO Digital 313
7.4.2. Metoda Pengambilan Sampel 314
7.4.3. Pengambilan Sampel Real-Time dengan Interpolasi 314
7.4.4. Ekuivalensi Waktu Pengambilan Sampel 316
7.4.5. Osiloskop Penyimpan Digital 316
7.5. Spesifikasi Osiloskop 318
7.5.1. Spesifikasi Umum 318
7.5.2. Mode Peraga Vertikal 318
7.5.3. Perhatian Keamanan 319
7.6. Pengukuran Dengan Osikoskop 319
7.6.1. Pengenalan Panel Depan dan Fungsi 319
7.6.2. Pengukuran Tegangan DC 321
7.6.3. Pengukuran Tegangan AC 323
7.6.4. Pengukuran Frekuensi 326
7.6.4.1. Peralatan yang Dibutuhkan 326
7.6.4.2. Pengukuran Frekuensi Langsung 327
7.6.4.3. Pengukuran Frekuensi Model Lissayous 328
7.6.5. Pengukuran Pasa 329
7.7.1. MSO Sumbu XYZ Aplikasi Pada Pengujian Otomotif 331
7.7.2. Mixed Signal Oscilloscope 331
7.7.3. Osiloskop Digital Pospor (Digital Phospor Osciloscope / DPO)
7.7.4. Arsitektur Pemrosesan Paralel 332
7.7.5. Mudah Penggunaan 335
7.7.6. Probe 336
7.8. Pengoperasian Osiloskop 338
7.8.1. Pengesetan 338
7.8.2. Menggroundkan osiloskop 338
7.8.3. Ground Diri Pengguna 339
7.8.4. Pengaturan Pengendali 339
7.8.5. Penggunaan Probe 339
7.8.6. Pengukuran Tegangan 342
7.8.7. Pengukuran Waktu dan Frekuensi 342
7.8.8. Pengukuran Lebar dan Waktu Naik Pulsa 343
7.8.9. Pengukuran Pergeseran Pasa 344
8. FREKUENSI METER
8.1. Frekuensi Meter Analog . 345
8.1.1. Alat ukur frekuensi jenis batang atau lidah bergetar 
8.1.2. Alat pengukur frekuensi dari type alat ukur rasio 347
8.1.3. Alat ukur frekuensi besi putar 348
8.2. Frekuensi Meter Digital 349
8.2.1. Prinsip kerja 349
8.2.2. Rangkaian frekuensi meter digital yang disederhanakan 
8.3. Metode Pengukuran
8.3.1. Pengukuran Frekuensi dengan counter
8.3.2 Pengukuran Frekuensi System Heterodyne
8.3.3. Pengukuran Perioda Dengan Counter Perioda Tunggal
8.3.4. Pengukuran Perbandingan atau Perbandingan Ganda
8.3.5. Pengukuran Interval Waktu dengan Counter
8.3.6. Pengukuran Interval Waktu 
8.3.7. Totalizer 
8.4. Kesalahan pengukuran
8.4.1. Kesalahan pada “gate”
8.4.2. Kesalahan Time Base
8.4.3. Kesalahan “Level trigger”.

9. PENGANALISA SPEKTRUM
9.1. Pengantar dan Sejarah Perkembangan Spektrum Analiser 
9.1.1.Tantangan Pengukuran Sinyal RF Modern
9.1.2. Pertimbangkan Pengukuran
9.2. Jenis-jenis Penganalisa Spektrum
9.2.1. Penganalisa Spektrum tersapu
9.2.2. Penganalisa Vektor Sinyal dengan Analisis Modulasi Digital 
9.2.3. Kunci Konsep Analisis Spektrum Waktu Riil 
9.3. Dasar Analisa Spektrum Waktu Riil
9.3.1. Analisa Multi Ranah Korelasi Waktu
9.3.2. Prinsip Kerja Spektrum Analisa Waktu Riil
9.3.3. Penganalisa Spektrum Waktu Riil
9.3.4. Pengaruh Ranah Frekuensi dan Waktu Terhadap Kecepatan Pencuplikan
9.3.5. Pemicuan Waktu Riil
9.3.5.1. Sistem Picu dengan Akuisis Digital
9.3.5.2. Mode Picu dan Corak
9.3.5.3. Sumber-sumber Picu RSA
9.3.5.4. Membangun Topeng Frekuensi
9.3.5.5. Pewaktuan dan Picu

9.3.6. Baseband DSP
9.3.7. Kalibrasi / Normalisasi
9.3.8. Penyaringan
9.3.9. Analisa Transformasi Fast Fourier
9.3.10. Modulasi Amplitudo, Frekuensi dan pasa 
9.3.11. Pengukuran Ranah frekuensi
9.4. Aplikasi Dalam Penggunaan
9.4.1. Informasi Keselamatan
9.4.2. Mengukur Perbedaan antara Dua Sinyal Pada Layar 
9.4.3. Resolving SInyal of Equal Amplitudo 
9.4.4. Pemecahan Sinyal 
9.4.5. Pengukuran Frekuensi 
9.4.6. Pengukuran Sinyal Terhadap Noise 
9.4.7. Demodulasi Sinyal AM 

10. PEMBANGKIT POLA
10.1. Latar Belakang Sejarah 
10.2. Sinyal Pengetesan 
10.2.1. Komponen Sinkronisasi 
10.2.2. Sinyal Luminansi (Video Monokrom)  
10.2.3. Informasi Warna (Krominansi) 433
10.2.4. Ukuran IRE 434
10.2.5. Sinyal Tes TV 434
10.3. Pola Standar 435
10.3.1. Pola Pengetesan EIA 436
10.3.2. Penyusunan Bingkai 436
10.3.3. Pemusatan 436
10.3.3. Linieritas Pembelokan 437
10.3.4. Aspek Perbandingan 439
10.3.5. Cakupan Kontras 439
10.3.6. Penjalinan Gambar (Interlacing) 439
10.3.7. Resolusi 440
10.4. Pola Pengetesan Batang Untuk Pengecekan Lapisan 
10.4.1. Pengetesan Ringing Dalam Gambar 
10.4.2. Sinyal Monoscope 
10.4.3. Chart Bola Untuk Pengetesan Linieritas Kamera  
10.4.4. Sinyal Batang Warna Standar EIA 446
10.4.5. Batang SMPTE 447
10.4.6. Batang Bidang Putih Penuh 100% 449
10.4.7. Batang Warna Putih EIA 75% 450
10.4.8. Jendela 450
10.5. Pengembangan Pola 451
10.6. Pembangkit Pola 453
10.6.1. Blok diagram Pattern generator 455
10.6.2. Kontrol dan Spesifikasi Pola generator 458
10.7. Spesifikasi 459
10.8. Aplikasi 459
10.8.1. Prosedur Penggunaan Pembangkit Pola 459
10.8.2. Pengukuran Lebar Penalaan Tuner Televisi 461
10.8.3. Pengaturan Gambar dan Suara Menggunakan Pattern generator 
10.8.4. Pembangkit pola dipasaran 464
10.8.5. Pola Pengetesan Sinyal Video 467
11.MESIN TESTER
11.1. Pengantar 468
11.1.1. MSO 470
11.1.2. Verivikasi Sifat operasi Sistem Whindshield Wiper Automatis 
11.1.3. Pemicuan MSO Pada Bingkai Kesalahan 
11.1.4. Pemicuan MSO Mengungkapkan Glitch Acak 476
11.1.5. Penambahan Pengetesan Throughput ECU Otomotip 477
11.1.6. Karakteristik Input dan Output 478
11.2. Elektronik Pengetesan Fungsi Otomotif Menggunakan  Sistem Komponen
11.2.1. Penghitungan 479
11.2.2. Komunikasi Serial 481
11.2.3. Instrumentasi Pengukuran Frekuensi Rendah 482
11.2.4. Pensaklaran Beban dan Pengukuran 483
11.2.5. Peletakkan Semua Bersama 485
11.3. Aplikasi 486
11.3.1. Pengetesan Rem Anti-lock dan Kontrol Daya Tarik 
11.3.1.1. Sensor Reluktansi yang dapat divariasi 486
11.3.1.2. Deteksi Kelicinan Roda 486
11.3.1.3. Pengetesan Deteksi Kelicinan Roda 487
11.3.2. Pengetesan Ambang Kecepatan Roda 487
11.3.3. Pengetesan Selenoid Pengarah 488
11.3.4. Pengetsan Smart Drivers 490
11.3.5. Pengujian Remote Keyless Elektronik Otomotif 
11.3.6. Perlindungan Immobilizer 492
11.3.7. Pengetesan Pengapian 494
11.3.8. Pengetesan Kepemilikan 495
11.3.9. Pengetesan Sistem Pemantauan Tekanan Ban (TPMS) 
11.3.10. Kalibrasi Pengukuran Kerugian Jalur 499
11.3.11.Kerugian Jalur Pengukuran dan Kalibrasi Pesawat 500
11.3.12.Mesin Tester 501
11.3.13. Spesifikasi 502
11.3.14.Keunikan Pengetesan Fungsi Otomotif 502
11.4. Rupa rupa Penguji Mesin 504
11.5. Penganalisa Gas 
12. SISTEM POSISI GLOBAL (GPS)
12.1. Pengantar Teknologi GPS
12.1.1. Segemen ruang 521
12.1.2. Gerakan Satelit 522
12.1.3. Konstruksi GPS Satelit 523
12.1.4. Sinyal Satelit 
12.1.5. Segmen Kontrol 526
12.1.6. Segmen Pemakai 527
12.2. Cara Bekerja GPS 528
12.2.1. Koreksi Perbedaan Posisi 528
12.2.2. Navigasi Sederhana 529
12.2.3. Menghitung Jarak Satelit 531
12.2.4. Perhitungan Posisi 532
12.2.5. Sumber-sumber kesalahan 533
12.3. Differential GPS (DGPS) 539
12.3.1. Koreksi Perbedaan Posisi 539
12.3.2. Menentukan Nilai Koreksi 539
12.3.3. Penyiaran Nilai Koreksi 540
12.3.4. Koreksi Pengukuran Cakupan Semu 540
12.3.5. Penerima Acuan 541
12.4. Petunjuk Pengoperasian GPS Maestro 4050 542
12.4.1. Instalasi GPS 543
12.4.2. Pengoperasian Dasar 544
12.4.3. Menu Utama 545
12.4.4. Point Of Interest (POI) 546
12.4.5. Perencana Perjalanan (Trip Planner) 547
12.4.6. Prosedur Point Of Interest (POI) 551
12.4.7. Prosedur Perencana Perjalanan (Trip Planner)  
13. PERALATAN ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
13.1.1 MRI (Magnetic Resonance Imaging) 554
13.1.1.1.Scan MRI 556
13.1.1.2.Konstruksi Mesin MRI 557
13.1.1.3. Resonansi Magnetik 559
13.1.1.4. Keselamatan MRI 561
13.1.1.5. Magnet MRI 562
13.1.1.6.Magnit MRI Tambahan 563
13.1.2. Mesin MRI 564
13.1.2.1. MRI Images 565
13.1.2.2. Keuntungan MRI 566
13.1.2.3. Alasan Melakukan MRI 566
13.1.2.4. Kelemahan MRI 567
13.1.3. MRI Masa depan 568
13.1.3.1. Pengertian FMRI 568
13.13.2. Perbedaan Antara MRI dan FMRI 568
13.13.3. Tata cara pemeriksaan dan apa yang akan dialami pasien saat pemeriksaan MRI :
13.2.1. Pengertian CT SCAN 
3.2.1.1. Penemuan Sinar X 
13.2.1. 2. Pengertian Sinar X 
13.2.2. Mesin Sinar X
13.2.3. Prosedur Scanning 
13.2.3.1. Cara kerja CT Scan dan Perkembangnnya 
13.2.3.2. Pengoperasian Alat
13.2.3.3. Optimalisasi Peralatan Dengan Model jaringan
13.2.4.1. Perawatan 
13.2.4.2. Kapan CT scan diperlukan 
13.3.1. Diagnosis Medis Penggambaran Sonography 
13.3.1.1. Pengertian Ultrasonik Medis 
13.3.1. 2. Penggambaran Medis Ultrasonography 
13.3.2. Aplikasi Diagnostik 584
13.3.2.1. Pengolahan Suara Menjadi Gambar 586
13.3.2.2. Produksi Gelombang Suara 586
13.3.2.3. Menerima Pantul 586
13.3.2.4. Pembentukan Gambar 587
13.3.2.5. Susunan transduser linier 
13.3.3. Metoda Sonography 
13.3.3.1. Sonography Doppler 
13.3.3.2. Mesin Ultrasonik 
13.3.4. Perbedaan Jenis Ultrasonik 
13.3.5. Prosedur Pengujian Dengan Ultrasonik 
13.3. Penggambaran Dari Kedokteran Nuklir 
13.4.1. Prosedur Pengujian 
13.4.2. Prosedur Pelaksanaan 
13.4.3. Resiko 
13.4.4. Keterbatas Tomograpi Emisi Positron 
13.4.5. Teknik Cardiosvascular Imaging 
13.4.6. Scanning Tulang  


D A F T A R P U S T A K A A
DAFTAR TABEL B
DAFTAR GAMBAR C
GLOSARIUM D

 

Selengkapnya tentang ALAT UKUR DAN TEKNIK PENGUKURAN

0 komentar

<i>tekt miring</i> | <b>TEKS TEBAL</b>

[img]link Image Anda[/img]

[youtube]link video youtube[/youtube]




. . .
 
© 2011 - | Buku PR, TUGAS, dan Catatan Sekolah | www.suwur.com | pagar | omaSae | AirSumber | Amanah JayaSteel, | Bisa Mulia | Versi MOBILE