. Disponsori oleh Al Anwar Farm -
-

muslim sejati

 *📌Ada sepuluh perkara yang tidak bermanfaat:*

1. Ilmu yang tidak diamalkan.

2. Amal yang tidak ikhlas dan tidak sesuai dengan contoh Rasul shallallahu 'alaihi wasallam .

3. Harta yang tidak diinfakkan. Pemiliknya tidak dapat menikmatinya di dunia tidak juga menjadi pahala di akhirat.

4. Hati yang kosong dari mencintai Allah dan rindu untuk bertemu dengannya.

5. Badan yang tak digunakan untuk ketaatan.

6. Cinta yang tak diikat dengan keridlaan yang dicintai dan menjalani perintahnya.

7. Waktu yang kosong dari kebaikan.

8. Pikiran yang berfikir dalam perkara yang tak bermanfaat.

9. Berkhidmat kepada orang yang tidak mendekatkan diri kita kepada Allah tidak juga untuk kebaikan dunia.

10. Takut dan berharap kepada sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat tidak juga mudlarat, tidak memiliki kehidupan tidak juga kematian.

(Al Fawa-id hal. 146).

✏ Oleh: Ust. Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

muslimahorid

*🌐Dibroadcast ulang : BerbagiKebaikan*

.
.
_________
"Bu, anaknya berapa?" Tanyanya
"Tiga bu" Jawabku
"Owh yang itu, cewek semua ya bu"  Sahutnya
"Ya bu 😊 (sambil senyum manis banget)"
"Wah, berarti harus bikin lagi bu biar dapat cowok, kalo nanti lahir cewek lagi berarti anda belum beruntung ha ha 😂😂" celotehnya

Sering saya dapat kelakar seperti ini, kadang biasa aja. Tapi, kadang juga klo lagi sensitif (mungkin saat pra haid kali ya 😊) ada rasa deg menghujam hati ini (ceilee). Seakan kata-kata tersebut berkonotasi lain, seakan-akan mau bilang "ga becus amat bikin anak cowok".

Tapi langsung deh istighfar, mohon ampun sama Allah. Apalagi ketika mengingat hadis yang menyebutkan keutamaan mempunyai anak cewek baik itu satu, dua, tiga dan seterusnya. Tapi saya yakin bukan mak-mak di sini yang bilang ya, tapi yang di sana, ya di sana.

Saya bersyukur dianugerahi 3 anak perempuan yang cantik-cantik. Semoga bukan hanya cantik fisiknya saja tapi juga cantik akhlaknya (mohon do'anya ya mak, semoga 3 anak saya shalihah, menjadi qurrota a'yun waja'lna lilmuttaqina imama, pembela agama Allah, pejuang syariah khilafah. Aamiin). 

Dan saya bukanlah generasi orang-orang jahiliyah yang merasa malu, marah, kesal karena anak-anak yang mereka lahirkan adalah perempuan.

Perlu kita fahami bahwa perkara anak yang kita lahirkan laki-laki atau perempuan itu adalah hak prerogatifnya Allah swt. Hak mutlaknya Allah. Makhluk tidak ada satu pun yang bisa "mengintimidasi-Nya". Allah yang maha tahu, siapa-siapa saja bagi hambaNya yang diamanahi anak, baik laki-laki atau perempuan.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala, dalam Alquran surat Asy-Syura ayat 49-50,
"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugrahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendakiNya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa”

Untuk itu, saya bermohon ampun kepada Allah dan meminta maaf kepada siapa saja, barangkali juga sebelum menulis ini pernah lisan ini berkelakar seperti yang di atas kepada teman atau tetangga yang membuat luka di hati. Jika menemui fakta saudara, teman, tetangga yang dianugerahi anak berjenis kelamin sama semua, alangkah baiknya lisan ini dijaga untuk tidak berkata-kata yang menyinggung perasaannya.

Mungkin bagi kita yang berceloteh hanya untuk gurauan saja, tapi kita tidak tau apa yang ditangkap bagi lawan bicara kita. Jangan-jangan niat kita hanya becanda tapi telah menyakiti hatinya. Baiknya do'akan kebaikan-kebaikan baginya dan keluarganya. Bukankah muslim sejati adalah orang yang kaum muslimin selamat dari bahaya lisan dan tangannya.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40)

Wallahu a'lam.

#Nasihatdiri
#menulissebagaipengingatdiri
#Jagalisankita
#Doakansaudaramuslimmu

Eva Rahmawati

.
.
_______

🌻 *SPIRIT TAHAJUD (212) 3107*🌻

*Jangan Ujub dengan Banyak Amal Shalih*

✍ Seorang hamba memang sudah seharusnya memperbanyak amalan shaleh untuk menjadi bekal baginya ketika menghadap Allah subhanahu wa ta’ala. Namun ada manusia yang merasa sudah terlalu banyak melakukan amal shaleh. Sikap ini tidak lain merupakan sikap dari manusia yang sombong.🌴

👉 Sungguh di antara kita atau mungkin diri kita sendiri pernah merasakan telah banyak beramal shaleh. Atau bisa saja kita tidak merasakannya akibat halusnya tipu daya syaitan terhadap kita. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur,” (QS. Al A’raaf: 17).💐

✍ Ayat ini memberitahu kita bahwasanya kita harus senantiasa mewaspadai syaitan agar kita tidak bersikap berlebihan (ifrath) yang membuat kita mudah dijerumuskan kepada kebalikannya yakni sikap meremehkan (tafrith).🙏

👉 Seorang Muslim jangan sampai tertipu dengan banyaknya amalan yang telah dikerjakan. Ada kalanya kita telah menunaikan banyak amalan kebaikan, seperti shalat tahajud di malam hari, berpuasa di siangnya, banyak bertilawah dan menghafal Quran dan hadits. Juga senantiasa hadir di majelis-majelis ilmu, menjaga shalat sunah rawatib, dan senantiasa berjamaah di masjid, kemudian tanpa sadar kita merasakan kebanggaan dalam diri kita. Kita merasa telah menjadi orang yang bertakwa, merasa bahwa diri kitalah yang paling shaleh di muka bumi ini.🌷

👉 Bahkan mungkin akan merasa bahwa diri ini akan dimasukkan ke dalam surga di hari akhirat nanti karena banyaknya amal shaleh yang telah diperbuat. Jikalau kita merasakan yang demikian itu maka justru yang terjadi adalah sebaliknya, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi,” (QS. Al A’raaf: 99).

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya,” (QS. Al Kahfi: 103-104).🙏

👉 Jangan sampai amalan kita sia-sia karena tidak ikhlas ketika mengerjakannya, atau merasa ujub (merasa bangga) dengan amalannya. Sebagian ulama salaf berkata: “Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan-amalan besar menjadi kecil karena niatnya.” 🙏

0 komentar

<i>tekt miring</i> | <b>TEKS TEBAL</b>

[img]link Image Anda[/img]

[youtube]link video youtube[/youtube]




. . .
 
© 2011 - 2021 | Buku PR, TUGAS, dan Catatan Sekolah | www.suwur.com | pagar | omaSae | AirSumber | Facebook | Twitter | Versi MOBILE