. Disponsori oleh Al Anwar Farm -
-

Masalah Ushul Yang Ahlus Sunnah Telah Sepakat Di Atasnya

Liberal Berkedok Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Di dalam Kitab al-Farq bain al-Firaq, Imam Abu Manshur al-Baghdadiy Asyfirayaini mengatakan:

الفصل الثالث من فصول هذا الباب في بيان الاصول التى اجتمعت عليها اهل السنة.  قد اتفق جمهور اهل السنة والجماعة على اصول من اركان الدين كل ركن منها يجب على كل عاقل بالغ معرفة حقيقته ولكل ركن منها شعب وفي شعبها مسائل اتفق اهل السنة فيها على قول واحد وضللوا من خالفهم فيها واول الاركان التى رأوها من اصول الدين اثبات الحقائق والعلوم على الخصوص والعموم والركن الثانى هو العلم بحدوث العالم في اقسامه من اعراضه واجسامه والركن الثالث فى معرفة صانع العالم وصفات ذاته والركن الرابع في معرفة صفاته الازلية والركن الخامس في معرفة اسمائه واوصافه والركن السادس في معرفة عدله وحكمته والركن السابع في معرفة رسله وانبيائه والركن الثامن في معرفة معجزات الانبياء وكرامات الاولياء والركن التاسع في معرفة ما أجمعت الامة عليه من اركان شريعة الاسلام والركن العاشر في معرفة احكام الامر والنهى والتكليف والركن الحادى عشر في معرفة الخلافة والامامة وشروط الزعامة والركن الثالث عشر كذا في احكام الايمان والاسلام في الجملة والركن الرابع عشر في معرفة احكام الاولياء ومراتب الأئمة الاتقياء والركن الخامس عشر في معرفة احكام الاعداء من الكفرة واهل الاهواء. فهذه اصول اتفق أهل السنة على قواعدها وضللوا من خالفهم فيها وفى كل ركن منها مسائل اصول ومسائل فروع وهم يجمعون على اصولها وربما اختلفوا فى بعض فروعها اختلافا لا يوجب تضليلا ولا تفسيقا
Pasal Ketiga: Di Antara Bagian-bagian Bab Ini; Penjelasan Masalah Ushul Yang  Ahlus Sunnah Telah Sepakat Di Atasnya.  Mayoritas ulama Ahlus Sunnah sepakat atas perkara-perkara ushul yang menjadi bagian dari rukun-rukun dien (pilar-pilar agama Islam). Setiap rukun dari rukun-rukun tersebut wajib atas setiap orang yang berakal dan baligh mengetahui hakekatnya. Setiap rukun dari perkara-perkara ushuluddin tersebut memiliki cabang-cabang, dan di dalam cabang-cabang itu terdapat masalah-masalah yang ahlus sunnah wal jamamah telah menyepakatinya secara bulat, dan mereka menyesatkan siapa saja yang menyelisihi mereka dalam perkara-perkara tersebut, yakni: (1) Rukun Pertama, yang mereka (ahlus sunnah) pandang sebagai bagian dari ushuluddin: Penetapan hakekat-hakekat dan pengetahuan-pengetahuan atas yang khusus dan umum.[Itsbaat al-haqaaiq wa al-uluum ‘ala al-khushush wa al-‘umuum). (2) Rukun Kedua: Kepastian (keyakinan) akan hudutsnya alam semesta –alam semesta itu diciptakan baru dan bukan qidam-- dalam bagian-bagiannya, baik substansi-substansinya maupun bentuk-bentuknya. (3) Rukun Ketiga: Makrifat (mengenal) Pencipta alam semesta dan Sifat-sifat DzatNya. (4) Rukun Keempat: Mengenal ShifatNya Yang Azali (5) Rukun Kelima: Mengenal Nama-nama dan Shifat-shifatNya; (6) Rukun Keenam: Mengenal KeadilanNya dan KebijaksanaanNya; (7) Rukun Ketujuh: Mengenal Rasul-rasulNya dan Nabi-nabiNya, (8) Rukun Kedelapan; Mengenal mukjizat-mukjizat para Nabi dan karamah-karamah para wali (Kekasih Allah). (9) Rukun Kesembilan: Mengenal rukun-rukun syariat Islam yang umat telah sepakat atasnya. (10) Rukun Kesepuluh: Mengenal hukum-hukum perintah dan larangan, serta taklif., (11) Rukun Kesebelas: Mengenal fana`nya para hamba dan hukum-hukum mereka di hari akhir. (12) Rukun Kedua belas:  Khilafah dan Imamah, dan syarat-syarat pemimpin. (13) Rukun Ketiga belas:  Mengenai hukum-hukum iman dan Islam secara global. (14) Rukun Keempat belas: Mengenal hukum-hukum (yang terkait dengan) para wali dan kedudukan-kedudukan para imam ahli taqwa; (15) Rukun Kelima belas: Mengenal hukum-hukum (yang terkait dengan) musuh-musuh dari kalangan orang-orang kafir dan pengikut hawa nafsu.  Pokok-pokok ini, ahlus sunnah telah sepakat atas qawa’id-nya, dan mereka menyesatkan siapa saja yang menyelesihi mereka dalam perkara tersebut.  Setiap rukun terdapat masalah-masalah ushul (pokok) dan furu’ (cabang). Mereka sepakat atas masalah-masalah ushul dan kadang-kadang berselisih pendapat  dalam beberapa perkara cabang dengan perselisihan yang tidak mewajibkan adanya penyesatan dan pemfasikan. [Imam Asyfirayaini, al-Farq bain al-Firaq, hal. 279]

Rukun pertama yang ditetapkan sebagai pilar agama Islam (arkan al-diin) adalah wajibnya menyakini adanya hakekat dan kepastian (‘ilmu).   Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyesatkan siapa saja yang menafikan “kepastian (ilmu) dan substansi”. Mereka menyesatkan semua aliran Shofistik baik yang (1) menafikan “kepastian dan seluruh hakekat”; (2) meragukan keberadaan hakekat (tidak ada kebenaran pasti, semuanya relative); dan (3) aliran yang berpendapat bahwasanya hakekat itu mengikuti keyakinan.  Tiga aliran ini semuanya kafir karena menolak prinsip-prinsip yang ditetapkan berdasarkan dalil-dalil qath’iy (ilmu dlaruriy).

Paham liberal (liberalisme) berhubungan erat dengan pandangan kaum Shofistik yang menolak semua perkara yang dianggap kepastian, termasuk di antaranya keberadaan Sang Pencipta, ajaran agama, maupun pengetahuan-pengetahuan obyektif yang dihasilkan dari penginderaan.   Relativisme –salah satu pandangan kelompok Shofistik yang menganggap kebenaran itu relative, tidak ada yang pasti—dalam banyak hal berkaitan langsung dengan proyek-proyek liberalisasi dan pluralisasi agama.  Liberalisme juga berkaitan erat dengan filsafat barat yang menyatakan keberadaan eksistensi itu mengikuti keyakinan. Tuhan itu ada bukan karena eksistensinya ada, tetapi karena dipikirkan.  Dengan kata lain, mereka meragukan atau bahkan menafikan eksistensi Tuhan sebagai sebuah fakta obyektif yang bisa dijangkau oleh akal manusia. Rene Descartes, seorang filsof Perancis pernah mengatakan “cogito ergo sum” (aku berfikir maka aku ada)”. 

Gagasan yang menolak eksistensi Tuhan, dan Tuhan tidak ada realitasnya dalam kehidupan adalah paham kufur. Orang yang menyakini pandangan ini kafir dan sesat. Begitu pula pandangan yang menyatakan tidak ada kebenaran obyektif, alias semua pengetahuan itu relative,  merupakan pandangan kufur yang bertentangan dengan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Imam Asyfirayaini mengatakan:

فأما الركن الاول فى اثبات الحقائق والعلوم فقد اجمعوا على اثبات العلوم معانى قائمة بالعلماء وقالوا بتضليل نفاة العلم وسائر الاعراض وبتجهيل السوفسطائية الذين ينفون العلم وينفون حقائق الاشياء كلها وعدوهم معاندين لما قد علموه بالضرورة وكذلك السوفسطائية الذين شكوا فى وجود الحقائق وكذلك الذين قالوا منهم بان حقائق الاشياء تابعة للاعتقاد وصححوا جميع الاعتقادات مع تضادها وتنافيها وهذه الفرق الثلاث كلها كفرة معاندة لموجبات العقول الضرورية
Adapun rukun pertama; yakni penetapan hakekat-hakekat dan pengetahuan-pengetahuan (keyakinan-keyakinan).  Mereka (ahlus sunnah) sepakat atas penetapan ilmu-ilmu, makna-makna yang eksis pada diri orang-orang yang berilmu.  Mereka (ahlus sunnah) menyesatkan orang-orang yang menafikan ilmu (suatu perkara yang pasti) dan semua substansi.  Mereka menyesatkan kelompok shofistik yang menafikan ilmu (kepastian) dan menafikan hakekat sesuatu seluruhnya.  Mereka (ahlus sunnah) menganggap mereka sebagai orang-orang yang menentang perkara-perkara yang mereka telah menyakininya secara dlaruriy.   Begitu pula dengan aliran shofistik yang meragukan eksistensi hakekat –maka mereka disesatkan oleh ahlus sunnah.  Begitu pula aliran shofistik yang berpendapat bahwasanya hakekat sesuatu itu mengikuti keyakinan.  Mereka membenarkan semua keyakinan walaupun (keyakinan tersebut) saling bertentangan dan saling menafikan.   Tiga kelompok ini semuanya kafir, menentang perkara-perkara yang menjadi konsekuensi logis dari dlaruriy.[Imam Abu Manshur al-Baghdadiy, al-Farq Bain al-Firaq, hal. 311. Maktabah Syamilah]

Doktrin “semua agama benar” atau “keinginan untuk menghapus semua identitas agama” yang dijajakan kelompok pluralis, jelas-jelas merupakan doktrin kufur dan sesat yang bertentangan dengan perkara ushul yang telah disepakati Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
(Gus Syams)

0 komentar

<i>tekt miring</i> | <b>TEKS TEBAL</b>

[img]link Image Anda[/img]

[youtube]link video youtube[/youtube]




. . .
 
© 2011 - 2021 | Buku PR, TUGAS, dan Catatan Sekolah | www.suwur.com | pagar | omaSae | AirSumber | Facebook | Twitter | Versi MOBILE