Pekembangan Sosiologi Di Indonesia
Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan,
teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi Sosiologi adalah
ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok
individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan
memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku
masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku
kelompok yang dibangunnya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku
bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial.
Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali
oleh ilmuwan Perancis, bernama August Comtetahun 1842. Sehingga Comte
dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Selanjutnya Émile Durkheim — ilmuwan
sosial Perancis — yang kemudian berhasil melembagakan Sosiologi sebagai
disiplin akademis. Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology
pada tahun 1876. Di Amerika Lester F.Ward mempublikasikan Dynamic
Sosiology. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan
kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat
di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.
Sejak awal masehi hingga abad 19, Eropa dapat dikatakan menjadi pusat tumbuhnya peradaban dunia, para ilmuwan ketika itu mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial. Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia, sosiologi kemudian berkembang dengan pesat ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Perkembangan Sosiologi di Indonesia
Soerjono soekanto membagi perkembangannya menjadi 2 periode, yaitu :
Sejak awal masehi hingga abad 19, Eropa dapat dikatakan menjadi pusat tumbuhnya peradaban dunia, para ilmuwan ketika itu mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial. Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia, sosiologi kemudian berkembang dengan pesat ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Perkembangan Sosiologi di Indonesia
Soerjono soekanto membagi perkembangannya menjadi 2 periode, yaitu :
Sebelum PD II
Bukti-buktinya, antara lain :
-Sri Paduka Mangkunegara IV dengan ajaran Wulang Reh (Inter Group Relation).
-Ki
Hajar Dewantara dengan konsep kepemimpinan dan kekeluargaan Indonesia
yang nyata dipraktekan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.
-Karya
sarjana Belanda : Snouck Hurgronye, Van Vollen Hoven, Ter Haar yang
mengambil masyarakat -Indonesia sebagai objek perhatian. Pada
tulisan-tulisan tersebut nampak adanya unsur-unsur sosiologis yang dikupas secara ilmiah.
-Periode
Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta yang memberikan kuliah Sosiologi
hanya sebagai orientasi pengajaran yang bersifat sosial dan teoritis.
Tahun 1934/1935 kuliah sosiologi ditiadakan karena dianggap tidak
diperlukan dalam hubungannya dengan pelajaran hukum.
Setelah PD II
-Kemerdekaan
setelah proklamasi 17 Agustus 1945 pada Akademik Ilmu polotik
Yogyakarta sekarang dikenal Fakultas Sosial Politik UGM diajarkan mata
kuliah Sosiologi.
-Tahun
1950 dibuka kesempatan bagi mahasiswa dan sarjana unutk belajar ke
luar negeri memperdalam pengetahuanya tentang sosiologi.
-Buku
sosiologi karangan Djody Gondokusuma “Sosiologi Indonesia” dan Hassan
Shadily “Sosiologi Untuk Masyarakat indonesia” merupakan buku pertama
berbahasa Indonesia, serta Selo Soemardjan “Social Changes in
Yogyakarta” merupakan desertasinya untuk mencapai Doktor pada Cornel
University.
-Suasana
revolusi fisik terasa kehausan golongan terpelajar akan ilmu
pengetahuan untuk membantu usaha mereka dalam memahami perubahan yang
terjadi dalam masyarakat Indonesia.

